Perubahan warnaku, meningkatkan keyakinan pada Sang Maha Pencipta

image

Di satu sore tak sengaja saya menoleh ke tanaman bunga yg sejak beberapa hari lalu penuh dg putik bunga dan yg sudah mekar seperti biasa berwarna kuning cerah, berbentuk mungil dan harum. Saya melihat putik yg baru merekah berwarna putih, agak heran saya amati dan saya foto, penasaran karena selama ini yg terlihat bunga ini berwarna kuning bukan putih. Terpikir di benak saya apakah bunga putih itu ada karena proses penyambungan dua batang dari induk berwarna kuning dan putih sehingga menghasilkan dua warna bunga di batang yg sama, saya amati keseluruhan batangnya dan tidak menemukan ada bekas sambungan, wah makin penasaran saya dibuatnya. Karena Adzan Maghrib sudah terdengar saya tinggalkan bunga itu untuk  melanjutkan aktifitas rutin dan terlupakanlah rasa penasaran saya terbawa gelap malam yg mulai turun.
Keesokan paginya sebelum bersiap-siap beraktifitas saya sempatkan melihat bunga yg kemarin sore menjelang Maghrib membuat penasaran. Subhanallah …. saya takjub melihat bunga itu, yg kemarin sore berwarna putih kini berwarna kuning!.
Saya amati perubahan warna bunga itu, pada saat mulai mekar berwarna putih kemudian berangsur-angsur berubah menjadi kuning muda dan akhirnya menjadi kuning yg lebih tua dari sebelumnya.
Selama ini saya luput melihat bahwa pada saat awal mekar bunga itu berwarna putih sebersih-bersihnya putih untuk selanjutnya menjadi kuning (perubahannya tentu saja tak kasat mata). Kuasa Allah Sang Maha Pencipta!
Perubahahan yg terjadi pada warna bunga membuat keyakinan kepada Sang Pencipta makin bertambah, siapa yg bisa melakukan hal itu selain Allah Subhana Wa Ta’ala?
Itu jika terjadi pada warna bunga, berubah dan membuat manusia makin meyakini kekuasaan Allah, tapi bagaimana jika terjadi pada manusia?
Perubahan pada apapun di dunia ini pasti terjadi, tidak ada yg abadi, itu adalah Sunatullah. Ketentuan yg tidak dapat ditolak oleh apapun dan siapapun di dunia ini.
Muda menjadi tua, kecil kemudian besar, ada lalu tiada, hidup berakhir mati. Apakah sesederhana itu? Dalam kalimat iya sederhana tapi tidak dalam kenyataan, apakah kita serta-merta lapang dada ketika kehilangan sesuatu yg kita sayangi? Yg semula ada menjadi tiada, dan kita tidak merasa sedih?
Pertama kali saya belanja ke pasar swalayan  setelah kepergian Ibu saya menghadap Illahi saya sangat merasa sedih karena tiba-tiba tangan saya mengambil susu yg biasa saya beli untuk beliau semasa hidup dan saat itu saya menyadarinya bahwa beliau tak lagi membutuhkan susu itu. Melihat pedagang buah menjual sawo kesukaan Ibu saya rasa sedih langsung menyergap dan keluarlah airmata. Dan sampai saat inipun saya masih merasa sangat kehilangan beliau yg saya atasi dg mendoakan beliau di setiap ba’da sholat. Yaah itulah bukti bahwa perubahan kadang perlu proses untuk menerimanya, terutama perubahan yg tidak mengenakkan, jangan bandingkan dg perubahan yg menyenangkan, itu tak perlu menjadi bahasan karena siapapun akan mudah dan senang menerimanya.
Kembali ke topik perubahan, yg ingin saya katakan adalah perubahan yg kita alami kadang sangat sulit dihadapi. Perubahan warna bunga, perubahan dari remaja ke dewasa, dan perubahan-perubahan lain yg sifatnya pasti terjadi tidak menjadi hal yg menyusahkan. Tapi ada perubahan yg kadang sulit kita terima yaitu perubahan sifat seseorang yg selama ini kita anggap A ternyata bisa tiba-tiba menjadi B, yg tiba-tiba menjadi seperti orang asing padahal sebelumnya kita merasa sangat mengenalnya. Apakah kita bisa dg mudah berlapang dada menerima perubahan itu?
Tidak! Apakah yg harus kita lakukan? Cukupkah dg bertawakal pada Allah bahwa sebagai manusia kita harus berserah diri pada ketentuanNya?
Jika tiba-tiba kita dikejutkan dg perubahan yg 180 derajat yg tidak mengenakkan bisakah kita terima dg mudah semudah kita meminum air tatkala haus? Rasanya saya tak perlu menjawab, saya kembalikan kepada kondisi dan pendapat masing-masing.
Hanya mungkin yg bisa saya katakan kalaupun ada perubahan hendaknya itu perubahan yg manusiawi, yg bertujuan untuk kebaikan bersama, yg menimbang perasaan dan harga diri manusia, yg tidak berkonotasi “Habis manis sepah dibuang” dan tidak terkesan mencampakkan. Sebagai manusia memang wajib bertawakal kepada Allah tapi bukan berarti sikap, sifat dan perbuatan kepada sesama manusia dibolehkan semau dan sesuka sendiri kemudian dg mudahnya berkata “Tawakal alallah”. Buat yg mengalami perubahan yg menyenangkan akan sangat mudah menerapkan “Tawakal” karena kondisinya bahagia tapi buat yg mendapatkan perubahan yg tidak menyenangkan? Tentu bertawakal juga karena itu tanda orang beriman tapi sebagai manusia biasa ada yg menjalani tawakal itu dg luka yg berdarah-darah. Jadi? Bijaklah wahai manusia …. janganlah menjadi penyebab luka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s